Akhirnya sampailah saya di penghujung waktu dimana saya harus kembali ke tanah air. 22 Januari 2005 pagi, bersama-sama dengan Dini yang juga kembali ke tanah air, kita berangkat dari stasiun kereta Magdeburg untuk langsung menuju kota Frankfurt. Senang karena pada akhirnya saya bisa kembali bertemu dengan keluarga dan juga kepada sang calon bayi yang pada saat itu usia kandungan istri sudah mencapai 3 bulan. Ingin segera sampai dan melepas rindu dengan seluruh keluarga yang ada di Jakarta. Namun bersamaan dengan rasa senang tadi, tidak dapat terhindarkan juga rasa sedih karena harus meninggalkan semua yang telah menemani saya selama 1 tahun ini di Magdeburg. Semua suka dan duka yang saya alami selama menempuh pendidikan di Magdeburg ini akan saya tinggalkan untuk menghadapi kehidupan baru yang akan saya hadapi setelah ini.
Showing posts with label Kehidupan di Magdeburg. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan di Magdeburg. Show all posts
Wednesday, July 22, 2015
Thursday, April 9, 2015
My Farewell Feast
Hari ini adalah tanggal 20 Januari 2005, 2 hari menjelang saya pulang kembali ke tanah air, ke keluarga, dan kembali ke kehidupan nyata. Yap, ini adalah 2 hari terakhir saya tinggal di Magdeburg karena pada tanggal 22 Januari 2005 saya akan meninggalkan kota dan teman-teman QSE angkatan 2003 seperjuangan yang masih tersisa di kota ini. Saat ini yang masih tersisa setelah saya kembali nanti adalah Abung, 'M' dan Patel. Sementara rekan-rekan QSE lain telah lebih dulu kembali ke negara masing-masing. Satu setengah tahun yang penuh dengan perjuangan, kegembiraan, dan penuh dengan kesan-kesan tersendiri telah menjadi sebuah pengisi dari sedikit celah di dalam memori yang tak akan pernah saya lupakan. Dan untuk menutup satu seri memori ini, sebuah farewell party dengan teman-teman Magdeburg sepertinya menjadi sesuatu yang cukup berkesan.
Labels:
Cerita Kita,
Kehidupan di Magdeburg
Thursday, April 12, 2012
Pengumpulan Dana Bagi Korban Tsunami di MENSA
Awal tahun 2005 merupakan saat-saat Indonesia mengalami kesedihan yang luar biasa, yaitu saat terjadinya musibah Tsunami Aceh di bulan Januari 2005. Saat kejadian berlangsung, saya mengikuti berita dan laporannya melalui siaran CNN yang kebetulan tersedia di asrama. Sungguh sebuah musibah besar yang merengut lebih dari 200 ribu jiwa manusia dengan korban terbesar ada di Propinsi NAD. Besarnya dampak yang diakibatkan dari musibah ini pun mengakibatkan banyaknya simpati masyarakat dunia, termasuk juga kami para mahasiswa Indonesia yang sedang berada di negeri seberang. Dan sebagai simpati terhadap para korban Tsunami Aceh ini, mahasiswa Indonesia di Magdeburg bersama-sama dengan IKUS (perhimpunan mahasiswa internasional di OvG Universitat Magdeburg) menggalang acara pengumpulan dana di MENSA atau kantin mahasiswa pada tanggal 19 Januari 2005.
Labels:
Cerita Kita,
Kehidupan di Magdeburg
Wednesday, April 11, 2012
Farewell Helen dan pak Zaeni
Tidak terasa waktu telah mendekati penghujung tahun 2004. Kembali kita memasuki musim dingin saat pertama kali saya tiba di Magdeburg satu tahun yang lalu di bulan Oktober 2003. Dan di penghujung tahun 2004 ini, semakin bertambah pula rekan-rekan kami di Magdeburg yang meninggalkan kota ini untuk kembali ke negaranya masing-masing karena telah menyelesaikan studi dan tugas akhirnya. Di bulan November 2004 ini giliran salah satu rekan QSE kami yaitu Helen yang berasal dari RRC dan juga pak Zaeni, mahasiswa Doktoran yang telah menyelesaikan program studi S3-nya setelah lebih dari 5 tahun tinggal menetap di Magdeburg.
Labels:
Cerita Kita,
Kehidupan di Magdeburg
Sunday, October 30, 2011
My Small Birthday Party
Tau-tau sudah tanggal 22 September 2009, dan tidak terasa sudah hampir 1 tahun berada di Magdeburg dan sudah kembali berulang tahun. Tapi kali ini ulang tahun saya dirayakan bersama rekan-rekan QSE dan istri tercinta di sebuah kamar asrama nomor 153, Uni Hotel, Walther-Rathenau Strasse 19. Dengan menu seadanya berupa spagethi Bollognaise dan salad, saya dan istri menikmati makan malam bersama dengan rekan-rekan seperti Abung, Havek, Adi, Coy, Meta pak Zaeni dan pak Asrial. Walaupun jauh dari keluarga besar, kehadiran rekan-rekan yang sudah seperti keluarga ini sudah cukup untuk memberikan kebahagiaan bagi saya dan istri. Kapan ya bisa seperti ini lagi....kangen rasanya jika melihat kembali foto-foto ini.
Thursday, October 27, 2011
Farewell Dhina
As time goes by, we start leaving Magdeburg....yup, waktu nya menempuh ilmu sudah mendekati akhir. Setidaknya itu yang dialami Dhina, salah satu rekan QSE yang di bulan September 2009 telah berhasil menyelesaikan program ini termasuk tesis nya. Dhina merupakan salah satu siswa QSE tercepat yang menyelesaikan program dibandingkan dengan pelajar lainnya. Dan berhubung kita tinggal di asrama yang sama, Uni Hotel, maka Dhina menyempatkan untuk membuat acara Farewell kecil-kecilan dengan beberapa tetangga kamar-nya yang juga sesama siswa QSE seperti rekan kita dari Ethiopia, Thailand, China dan tentu saja Indonesia.
Labels:
Cerita Kita,
Kehidupan di Magdeburg
Thursday, May 26, 2011
Grillen, 29 Mei 2004
It's Summer!! Time for garden party!!....Dengan datangnya musim semi dan dengan kondisi cuaca dan suhu yang sangat bersahabat, maka saatnya buat kita-kita yang ada di Magdeburg melakukan acara yang hampir setiap tahun diadakan oleh para mahasiswa di sini, yaitu pesta barbekyu atau yang dikenal dengan sebutan dalam bahasa Jerman...Grillen. Tahun ini adalah musim semi pertama saya (yang juga terakhir) selama sekolah di Magdeburg, jadi kesempatan acara Grillen sudah pasti tidak akan dilewatkan. Dengan mengambil tempat di area dekat lapangan volley di samping Wohnheim 2 yang cukup teduh dan dengan pepohonan yang rindang, serta tidak jauh dari asrama seandainya membutuhkan sesuatu, Grillen tahun ini diadakan dengan menu seadanya namun istimewa, yaitu sate buatan sendiri dengan tambahan menu sosis.
Labels:
Cerita Kita,
Kehidupan di Magdeburg
Pekan Olah Raga PRIMA, 15-16 Mei 2004
Jerman merupakan salah satu negara tujuan pelajar yang tergolong favorit bagi mahasiswa Indonesia. Maka tidak heran jika jumlah pelajar Indonesia di Jerman tergolong sangat banyak. Karena banyaknya jumlah pelajar tersebut maka banyak pula acara yang diadakan diantara para pelajar Indonesia tersebut, salah satunya adalah Pekan Olah Raga PRIMA yang diadakan setiap tahun sekali. Pada tahun 2004 ini, saya dan rekan-rekan mahasiswa Magdeburg juga berkesempatan ikut serta di dalam ajang olah raga tahunan yang diadakan di kota Darmstadt, salah satu kota favorit tujuan pelajar Indonesia di Jerman. Acaranya sendiri diadakan pada tanggal 15-16 Mei 2004 di area olah raga milik TU Darmstadt.
Labels:
Cerita Kita,
Jalan-jalan,
Kehidupan di Magdeburg
Thursday, November 11, 2010
'After Exam' Party
Umumnya saat-saat menjelang ujian adalah saat kita semua berjibaku dengan materi-materi yang bertumpuk dan membingungkan. Tidak heran jika selama musim ujian kita semua selalu mengalami kelelahan setelah menghapal sekian banyak pelajaran dan juga melakukan study group berulang kali untuk sebisa mungkin berhasil pada kesempatan ujian pertama. Karena bila gagal, berarti kita harus mengulang persiapan ujian tersebut sendirian dimana teman-teman kami yang lain sedang bersenang-senang dan bepergian saat libur. Jadi, tidaklah heran saat ujian berakhir, beberapa dari kami sering melakukan pesta makan-makan di salah satu tempat tinggal teman-teman QSE untuk melepas semua ketegangan dan kepenatan yang terjadi selama musim ujian, yang saya sebut dengan istilah After Exam party.
Wednesday, November 10, 2010
HUT Catoon
Buat kami para mahasiswa kos-kosan yang tinggal di kota seperti Magdeburg, selain acara TV berbahasa Jerman dan mengandalkan saluran CNN, hiburan lainnya adalah kumpul-kumpul bersama sesama mahasiswa Asia lainnya termasuk pada saat hari Ulang Tahun. Kali ini di bulan Februari, giliran Catoon, salah seorang mahasiswi asal Thailand yang merayakan hari ulang tahunnya yang ke 25. Karena kedekatan hubungan antara mahasiswa Asia di Universitas ini khususnya di jurusan QSE, maka Catoon mengundang beberapa dari kami mahasiswa Indonesia dan juga salah satu rekan kami dari Srilanka yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan Catoon.
Wednesday, November 3, 2010
It's Snow time!!
Friday, October 1, 2010
Christmas Party QSE 2003
Kelas QSE dimulai di bulan Oktober setiap tahunnya, yaitu di awal musim dingin, sehingga waktu perkuliahan tersebut hanya sekitar 2 bulan saja sebelum kita memasuki liburan Natal atau Weinacht dalam bahasa Jerman. Untuk jurusan QSE setiap tahunnya saat liburan Natal, mereka memiliki kebiasaan untuk melakukan Christmas Party yang diadakan menggunakan ruang kelas QSE. Karena ruangannya cukup besar dan partisi yang menghubungkan ke ruangan lainnya dapat dibuka, maka didapat ruangan yang lebih besar dan cukup untuk menampung 30 puluhan orang lebih. Sama halnya dengan tahun-tahun sebelumnya, maka pesta Natal tahun itu pun juga diadakan dengan koordinasi para siswa QSE dan mengundang beberapa mahasiswa dari jurusan lainnya seperti dari jurusan CPE (jurusan Master Teknik Kimia).
Thursday, September 30, 2010
Aktifitas Olah Raga di Kampus
Kampus OvG memiliki banyak fasilitas olah raga yang terletak di area asrama mahasiswa maupun di luar area kampus dan juga klub-klub olah raga yang juga menyediakan pelatih bagi para mahasiswa yang berminat untuk bergabung dan belajar suatu cabang olah raga. Untuk menjadi anggota dari klub-klub olah raga tersebut, di awal tahun semester para mahasiswa dapat mengakses website universitas untuk menentukan pilihan klub mana yang ingin dipilih untuk diikuti sepanjang tahun semester bersangkutan. Beberapa cabang olah raga seperti tennis, basket, bola volley, bola tangan, aerobik dan gym, memiliki hall olah raga yang berada persis di tengah-tengah kompleks asrama mahasiswa tempat kami tinggal. Universitas juga memiliki sport hall lain yang lebih besar untuk bulu tangkis, basket, bola tangan serta bola volley yang lokasinya berjarak sekitar 1 km dari asrama.
![]() |
| Lokasi Sport Hall Universitas OvG (Lingkaran Merah) |
Saya dan beberapa teman-teman Indonesia lainnya yang kebetulan menggemari olah raga, sepakat untuk mendaftar di klub bulu tangkis dan juga basket. Kebetulan di Magdeburg juga terdapat mahasiswa Indonesia yang ternyata alumni dari sekolah atlet dan sering menjadi juara bulu tangkis di Magdeburg, mereka adalah Dendy dan Meta, kakak beradik yang telah beberapa tahun tinggal di Magdeburg untuk mengambil gelar Doktor. Berhubung hampir seluruh mahasiswa Indonesia di Magdeburg bermain bulu tangkis, maka saat saya tinggal di sana sudah beberapa tahun belakangan mahasiswa Indonesia mendapatkan kesempatan khusus dan mendapat jatah waktu khusus menggunakan sport hall dengan koordinatornya adalah pak Zaeni. Oleh karena itu, khusus mahasiswa Indonesia, kita mendapat hak penuh dalam hari-hari tertentu di setiap minggunya untuk berolah raga.
![]() |
| Kelompok Bulu Tangkis |
Sempat saya mengikuti pertandingan bulu tangkis yang diadakan oleh kampus dan berhasil menjadi juara 3 di kelas pemula. Ini pun karena fisik belum terlatih, sehingga saat perebutan tempat ke 2 dan 3, saya sudah kehabisan nafas. Lain halnya di kelas mahir, dimana Meta berhasil menjadi juara di tunggal putra. Mahasiswa Indonesia memang terkenal saat itu di cabang bulu tangkis karena seringnya menjadi juara.
![]() |
| Saat Kompetisi Bulu Tangkis Kampus |
Selain bulu tangkis, kamipun juga mendaftar klub basket. Untuk basket tempat yang digunakan adalah hall yang terdapat di tengah area asrama. Saya, Abung, Havi, Meta dan Adi menjadi satu tim komplit saat berlatih dan saat sparing dengan tim mahasiswa lain yang juga ikut di klub tersebut. Selain tim mahasiswa Jerman yang memang memiliki postur rata-rata yang tinggi besar, tim mahasiswa lainnya dari China juga memiliki permainan yang cukup baik. Setidaknya selama kami kuliah, fisik kami tetap terjaga dalam kondisi yang fit dan segar.
Saya tidak ikut mendaftar cabang lainnya seperti tennis walaupun lapangannya terletak persis di samping hall basket. Namun karena tidak memiliki raket, dan sangat bergantung pada musim (karena lapangan outdoor), saya tidak berminat untuk bergabung di klub tenis. Selain olah raga tersebut, saya juga sering melakukan jogging di area taman yang terletak di belakang kompleks universitas. Dengan panjang jalur sekitar kurang lebih 500 m, jogging di sore hari terasa menyenangkan apalagi saat musim gugur. Udara yang sejuk cenderung dingin, membuat tubuh terasa tidak cepat lelah. Menyenangkan sekali memang tinggal di asrama karena dekat dengan fasilitas olah raga yang cukup baik.
Thursday, September 16, 2010
Hari Yang Cerah, Waktunya Jalan-jalan!
Kalau di Eropa, cuaca cerah dengan langit biru yang bersih hampir setiap hari bisa kita dapatkan apalagi di saat menjelang musim gugur dan sepanjang musim panas. Seperti pada waktu itu, dimana kita sedang tidak ada jam kuliah dan kebetulan Adi dan Abung juga tidak ada rencana keluar, maka kita bertiga iseng untuk menikmati cuaca yang cerah ini untuk berjalan-jalan, walaupun saat itu sudah mulai memasuki musim gugur sehingga udara sudah mulai terasa dingin, tapi cuaca cerah cukup memberikan sedikit kehangatan. Saat itu kita belum lama tinggal di Magdeburg sehingga masih banyak tempat tujuan yang bisa kita jadikan target tujuan jalan-jalan. Dan untuk kali ini, kita memutuskan untuk berjalan menuju area Elbauenpark di dekat Herrenkrug, sebuah taman terbuka yang cukup besar di dekat asrama kami.
![]() |
| Pedestrian di Walther-Rathenau Str. |
Kalau bicara mengenai jalan-jalan, maka perlengkapan kamera tidak pernah lupa kami bawa. Di setiap sudut yang menurut kami menarik dan cocok kami sempatkan untuk selalu mengambil gambar. Contohnya adalah di area kantor persis di seberang bangunan asrama tempat saya tinggal. Tidak perlu tau kantor apa yang penting bagus untuk foto-foto, maka jadilah kita sedikit narsis ber-tiga. Juga di lokasi jembatan yang menghubungkan kami ke bagian selatan kota Magdeburg. Dengan desain menarik dari struktur baja, kita sempatkan mengambil beberapa gambar di sini sambil terus berjalan menuju Elbauenpark.
![]() |
| Rumah Otto-von-Guericke |
Kami juga sempat mampir untuk melihat-lihat salah satu bagunan tua milik pendiri kota Magdeburg, yaitu Otto von Guericke, yang namanya juga digunakan sebagai nama Universitas tempat kami kuliah. Rumah tua yang telah direnovasi kini menjadi museum kecil yang juga menjadi salah satu tempat wisata lokal di kota ini.
Perjalanan menuju Elbauenpark akan melewati juga tempat hiburan kolam renang yang menyediakan kolam air panas yaitu 'Nautica'. Kalau melihat dari desain dan bentuk bangunannya yang cukup menarik, tempat ini merupakan gelanggang kecil indoor sehingga saat musim dingin tempat ini pasti menjadi salah satu tempat favorit di Magdeburg.
Karena baru pertama kali kami mengunjungi Elbauenpark maka kami tidak berniat untuk masuk ke dalam-nya. Mungkin menunggu lain waktu saja bersama-sama dengan teman-teman yang lain agar lebih ramai. Walaupun kami tidak masuk ke dalamnya, ternyata view dari luar area cukup bagus untuk berfoto. Penasaran juga sebenarnya saat itu untuk tahu seperti apa bagian dalam taman Elbauenpark ini. Karena kami melihat bangunan yang cukup unik yang disebut sebagai Jahrtausendtrum dan juga jembatan penyeberangan yang melintasi jalan dari sisi taman dari sebelah Utara ke sisi taman ke sebelah Selatan. Lain waktu saya pasti kembali untuk mencoba masuk ke dalamnya.
![]() |
| Di depan Nautica |
![]() |
| Berfoto di depan Elbauenpark dengan latar belakang Jahrtausendtrum |
![]() |
| Di depan mesin diesel pertama yang diciptakan oleh Rudolf Diesel |
Labels:
Jalan-jalan,
Kehidupan di Magdeburg
Suasana Kampus dan Perkuliahan
![]() |
| Suasana kompleks Universitas OvG |
Tidak seperti di Jakarta yang hiruk pikuk dan dipenuhi dengan kemacetan, yang membuat suasana belajar menjadi tidak nikmat dan ditambah dengan kebiasaan manusia Indonesia yang cenderung sulit untuk menjaga kondisi lingkungan di sekitarnya, suasanya perkuliahan di kampus OvG sangat jauh berbeda dan terasa seperti tidak sedang mengikuti kuliah. Hawa yang sejuk dingin dan bersih membuat kondisi belajar sangat menyenangkan dan membuat kita dapat fokus 100% kepada materi yang disampaikan oleh para Profesor pengajar.
![]() |
| Di salah satu gedung kampus |
Di Jakarta, kalau mau jujur, hampir di setiap sudut ruangan dan tempat manapun, pasti kita akan menemukan barang yang tergeletak tidak karuan, rusak karena tidak dirawat, rusak karena memang dirusak oleh tangan-tangan jahil, ataupun rusak karena dimakan usia. Udara lembab di Indonesia juga turut menambah proses kerusakan barang terutama yang berbahan metal sehingga menyebabkan karat di sana-sini. Lingkungan tersebut sangat jarang saya jumpai di kampus OvG, walaupun gedung yang kami gunakan untuk belajar juga termasuk gedung lama, tetapi karena selalu dijaga dan dirawat kebersihannya, kondisi seperti di Indonesia bisa dikatakan hampir tidak pernah kami temui. Walaupun kami menggunakan ruang basement gedung untuk kuliah, ruang tersebut sangat bersih dan nyaman. Tersedia juga coffee machine di luar ruangan yang dapat kami gunakan setiap saat ketika kami membutuhkan sedikit penambah semangat walaupun harus mengeluarkan sekitar 50-75 sen Euro untuk segelas kopi panas.
![]() |
| Anggota Kelas QSE minus Adi Setiadi yang pegang kamera |
Mungkin kondisi di atas tidak sepenuhnya ditemui di Jakarta sekarang ini, masih banyak tempat-tempat baru yang kini bisa dijumpai yang sudah didesain dan dirancang menyerupai suasana di Eropa. Hanya saja kita sangat bergantung dengan bagaimana perawatan tempat-tempat tersebut untuk selalu bisa memberikan suasana nyaman. Kadang-kadang saya rindu untuk bisa kembali ke Magdeburg untuk bisa sekali lagi menikmati suasana nyaman yang saat ini sudah jarang saya temui di Jakarta selain di rumah saya sendiri.
![]() |
| Perpustakaan OvG saat senja |
Di Jerman khususnya di kampus OvG, suatu departemen atau jurusan tertentu di Universitas pasti dipimpin oleh seorang Profesor. Profesor ini selain memimpin juga bertanggungjawab atas kelangsungan hidup dari departemen tersebut, mulai dari mencari dukungan dana maupun mencari siswanya. Salah satu sumber dana yang diperoleh adalah dari pemerintah yang terbatas pada jumlah siswa yang terdaftar di departemen bersangkutan. Jadi semakin banyak siswa yang mendaftar pada jurusan itu, semakin banyak pula dana yang dikucurkan oleh pemerintah kepada departemen tersebut.
![]() |
| Max-Planck-Institute yang letaknya di belakang asrama |
Selain dana dari pemerintah, pihak Universitas atau institusi pendidikan juga mengadakan bentuk kerjasama dengan pihak swasta sebagai sumber dana-nya. Oleh karena itu tidak heran kalau di Jerman hampir rata-rata Universitas atau institusi pendidikan tingkat tinggi memiliki kerjasama dengan pihak swasta dalam pengembangan teknologi. Contohnya adalah Departemen Teknik Mesin di OvG yang mengadakan kerjasama dengan pihak industri mobil VW. Penelitian dalam pengembangannya menjadi salah satu topik yang kemudian diambil sebagai topik penelitian oleh para mahasiswa yang mengambil gelar Doktor, Master ataupun Sarjana di departemen tersebut.
![]() |
| Perpustakaan Kampus OvG |
Saya mengambil jurusan QSE atau Quality, Safety and Environment. Kepala jurusannya adalah Profesor Ulrich Hauptman, bertubuh tinggi besar dan bisa sedikit berbahasa Indonesia. Beliau memiliki rumah di Indonesia yang kalau tidak salah ada di Pulau Lombok. Karena program ini adalah program miliki beliau, maka beliau sering bepergian ke Indonesia dalam urusan kerjasama dengan salah satu universitas ternama di Bandung. Bahkan program ini pun memberikan beberapa beasiswa kepada mahasiswa Indonesia melalui DAAD, lembaga yang mengurusi pendidikan khusus untuk negara Jerman di Indonesia. Oleh karena itu tidak heran kalau program ini cukup populer dan dikenal di kalangan mahasiswa Indonesia. Bahkan 50% dari peserta jurusan ini setiap tahunnya rata-rata adalah mahasiswa Indonesia.
Selain mahasiswa Indonesia, pada saat saya belajar waktu itu juga terdapat beberapa mahasiswa Asia Afrika dan Amerika Latin antara lain Thailand, China, Pakistan, Filipina, India, Nigeria, Columbia dan Cuba. Dengan mayoritas mahasiswa Asia di jurusan ini, suasana keakraban lebih terasa karena persamaan kultur dan situasi sosial. Dan sebagai mahasiswa mayoritas, maka hubungan antara sesama mahasiswa Asia terasa jauh lebih dekat dibandingkan dengan mahasiswa lainnya dari Afrika dan Amerika Latin. Sering kami mengadakan acara belajar bersama, makan bersama dan bepergian bersama di waktu-waktu tertentu. Wah...memang sangat merindukan sekali saat-saat seperti itu. Kapan ya bisa kembali ke sana....
![]() |
| Suasana saat belajar kelompok dengan Cartoon dan 'M' dari Thailand |
Labels:
Kehidupan di Magdeburg,
Perkuliahan
Monday, March 15, 2010
Jalan-Jalan Sore Dengan Para Magdeburger
JDi Magdeburg, salah satu yang bisa kita lakukan untuk menikmati suasana kota tersebut adalah dengan jalan-jalan. Jalan kaki sudah menjadi suatu rutinitas bagi orang-orang di Eropa karena selain udara yang bersih dan sejuk, merekapun juga sadar akan semangat penghematan energy yang semakin hari semakin berkurang. Dan sebagai warga baru Eropa, kita pun juga tidak mau ketinggalan untuk menikmati kota sambil jalan-jalan sore.
Kali ini kita ber-7, para Magdeburger yang tinggal di Studentenwerk, saya, pak Zaeni, Jupiter, Abung, Meta, Coy dan Adi. Kita ber-7 jalan menyisir sungai Elbe yang berada tepat di dekat kompleks Studentenwerk. Di sepanjang sungai ini memang terdapat jalur yang disediakan khusus bagi pejalan kaki dimana di sepanjang jalur tersebut, juga terdapat beberapa taman serta arena permainan, dan juga patung-patung perunggu yang dibuat oleh beberapa seniman di sana.
Melalui jalur ini, kita bisa berjalan menuju pusat kota. Jadi jika kita ingin jalan-jalan ke kota sambil menikmati pemandangan sungai Elbe serta taman-taman kota yang saat musim panas memiliki bunga-bunga yang indah, rute ini bisa menjadi alternatif lain selain menggunakan trem.
Jalan-jalan kita kali ini berakhir di pusat kota dan sambil menunggu waktu makan malam, kita habiskan waktu di area Weinachtmarkt. Walaupun hari masih terang, tetap saja antusias penduduk kota Magdeburg terhadap pasar malam ini tidak pernah surut.
Labels:
Jalan-jalan,
Kehidupan di Magdeburg
Pasar Malam di Magdeburg
Karena saya tiba di Magdeburg pada akhir tahun yaitu akhir bulan Oktober, maka tidak lama setelah saya sampai saya bisa menikmati juga pasar malam atau yang disebut sebagai Weinacth markt, yang dalam bahasa Indonesia adalah Pasar Natal. Disebut seperti itu karena memang hal ini sudah merupakan tradisi di Jerman pada masa-masa menjelang Natal dan di akhir tahun, pasar malam selalu digelar terutama di pusat kota. Untuk di Magdeburg, pasar malam selalu diadakan di pusat kota di tengah-tengah pertokoan dan mall, dengan pusat utama yang terdiri dari hiburan dan pertunjukan serta arena permainan anak-anak berada di alun-alun balai kota lama atau Rathaus.
Kali ini ditemani oleh Coy, Dini dan Jupiter Manurung, salah satu siswa Indonesia yang sedang mengambil program Doktor di OvG University, kami berjalan kaki menuju pusat kota untuk melihat-lihat suasana pasar malam. Suasana saat itu sudah gelap walaupun sebenarnya masih menunjukkan sekitar pukul 6 sore. Berhubung saat musim dingin matahari akan tenggelam jauh lebih cepat daripada saat musim panas, sehingga bagi yang belum terbiasa akan sangat aneh. Seakan-akan di malam hari masih terdapat aktifitas di perkantoran maupun perkuliahan, dan saat kita memulai aktifitas pukul 7 pagi-pun suasana juga masih gelap gulita.
Salah satu yang menjadi ciri khas warga Jerman adalah bahwa mereka mungkin tidak memiliki kombinasi masakan tradisional, seperti layaknya orang Amerika Serikat, sehingga mereka punya kebiasaan untuk makan siang hanya dengan makanan-makanan yang mungkin buat orang Indonesia tidak bisa disebut makanan utama seperti sosis, roti berbentuk pretzel, kentang goreng, dan lain sebagainya. Maka dari itu, pada saat terdapat acara seperti pasar malam, salah satu tenda-tenda yang mendominasi adalah stand makanan dan bir. Cukup dengan meletakkan standing table di depan stand, orang-orang yang menikmati makanan dan bir tetap bisa berlama-lama sambil mengobrol.
Makan Bersama Perdana
Hidup bersosial memang merupakan salah satu ciri khas orang-orang Indonesia dan hal itulah yang bisa membuat kita bertahan hidup di mana saja...termasuk di Magdeburg. Setelah berkenalan dengan hampir semua mahasiswa Indonesia, maka acara makan dan masak bersama yang perdana (buat saya), kali ini dibuat di tempat pak Zaeni. Kali ini kebetulan yang ikut makan-makan adalah Abung, Havi, Coy, dan Dini, jadi sekaligus acara makan malam bersama dan juga perkenalan saya dengan beberapa warga mahasiswa Indonesia di Magdeburg ini.
Kalau yang namanya masakan, tentu saja jangan dibayangkan masakan rumahan seperti di Jakarta, tetapi apa yang bisa kita buat dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sini, apalagi sayuran. Harus punya kreatifitas yang tinggi supaya kita bisa tetap merasakan masakan rumahan. Malam ini pak Zaeni membuat pecel ala kadarnya dengan hanya kembang kol dan taoge, untung ada Asia shop yang menjual taoge. Walaupun harganya tergolong mahal, tapi sekali-kali untuk menghilangkan rindu makanan Indonesia. Kebetulan pak Zaeni masih menyimpan bumbu pecel sehingga malam ini kita pesta pecel dengan tambahan lauk sosis. Nikmat sekali.
Thursday, February 18, 2010
Memulai kehidupan di Magdeburg
Mulailalah kehidupan-ku di Magdeburg. Sebenarnya di saat saya tiba di Magdeburg, waktu perkuliahan sudah dimulai. Ini disebabkan karena informasi penerimaan yang dikirimkan oleh OvG University terlambat saya terima, sehingga hanya tersisa waktu sekitar 2 bulan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk paspor dan visa. Bahkan untuk pengurusan asuransi yang seharusnya bisa dilakukan secara kolektif di kampus, pada waktu pendaftaran ulang...harus dilakukan dengan bantuan kenalan yang ada di Berlin. Saat itu saya mendaftar asuransi "TK" yang umum digunakan oleh para mahasiswa di Jerman.
Di kampus
Di depan perpustakaan
Masih banyak urusan lain yang harus diselesaikan saat pertama tiba di sini, mulai dari pembukaan rekening bank, mendapatkan alamat tempat tinggal, mendaftarkan diri di kantor balaikota, dan perpanjangan visa belajar. Semua urusan tersebut sebenarnya dapat dengan mudah dilakukan karena organisasi siswa internasional atau IKUS, memberikan bantuan kolektif khususnya kepada siswa-siswa Internasional. Buat saya semuanya sudah telat sehingga saya harus melakukan semuanya sendirian, namun untungnya mahasiswa Indonesia di Magdeburg masih tergolong cukup banyak jumlahnya. 1 kelas QSE terdapat 2 orang mahasiswa beasiswa asal ITB, Dhina dan Vidya dan 3 orang lain yang reguler seperti saya. Mereka adalah Abung (ITB), Havi (ITS) dan Adi (UI). Ada 2 orang lagi yang kebetulan mengambil jurusan yang berbeda tetapi mereka juga ikut di dalam beberapa kelas QSE, mereka adalah Dini dan Marusaha/Coy, dua-duanya dari ITB. Sedangkan 1 orang lagi yang bernama Noni, yang ikut untuk menemani suaminya yang tahun lalu juga merupakan siswa QSE juga tetapi kemudian pindah ke universitas lain di Jerman. Jadi jika dijumlah, angkatan tahun 2003-2004 terdapat 9 orang.
Dengan bantuan mereka dan arahan dari mereka-lah saya mengurus segala sesuatunya. Dan untuk alamat rumah, kebetulan sekali pak Zaeni yang kamarnya saya tumpangi, berencana untuk kembali ke Indonesia selama 1 bulan. Kebijaksanaan Studentenwerk memperbolehkan pemilik kamar yang sedang meninggalkan kuliah untuk sementara waktu, menyewakan kamarnya kepada mahasiswa lain yang kuliah di OvG University. Untuk itulah maka saya menyewa kamar pak Zaeni selama beliau kembali ke Jakarta sehingga saya bisa mendapatkan alamat rumah sementara yang digunakan untuk pengurusan pembukaan rekening bank, pendaftaran diri ke kantor balaikota, serta pendaftaran ulang Universitas. Wheww...memang beruntung sekali saya kala itu.
Memang demikianlah kehidupan di Jerman. Segala sesuatunya serba teratur dan detil serta terinci dengan jelas. Selama kita memiliki seluruh informasi dan data yang dibutuhkan untuk mengurus sesuatu, semuanya akan berjalan dengan lancar dan tanpa urusan aneh-aneh. Tapi terus terang saja....untuk urusan tempat tinggal, mahasiswa Indonesia di Magdeburg memang sudah piawai....kenapa? Begini ceritanya...
Parkiran di area asrama
Saat itu ada 1 orang Indonesia yang sedang mengambil Doktoran, Jupiter Manurung. Beliau ini sudah cukup lama tinggal di Jerman sejak lulus SMA, sehingga untuk segala macam urusan rata-rata kami selalu mengandalkan bantuan beliau jika terbentur masalah. Beliau ini saat awal tinggal di Magdeburg dan telah menjalin hubungan baik dengan kepala Studentenwerk, juga pak Zaeni. Kepala pimpinan ini, Herr Bock, sering diberikan oleh-oleh dari siswa Indonesia sehingga ia sering membantu saat mahasiswa Indonesia membutuhkan kamar...tetapi dengan cara yang benar, tentunya. Caranya adalah, jika mahasiswa Indonesia akan selesai study-nya, seharusnya kamar tersebut diserahkan kembali ke Studentenwerk untuk kemudian diberikan kepada daftar antrian paling atas. Namun yang ada adalah, jika mahasiswa Indonesia mau pulang, mahasiswa Indonesia tersebut akan mengalihkan kontrak kamar tersebut kepada sesama mahasiswa Indonesia lainnya, sebelum mahasiswa tersebut secara resmi keluar dari Universitas. Sehingga dengan demikian, bisa dikatakan kamar milik mahasiswa Indonesia akan selalu berada di bawah kekuasaan orang Indonesia juga. Ini pula praktik yang saya terapkan. Ketika Noni harus kembali ke Indonesia, saya mengambil alih kamar tersebut dan kamar inilah yang menjadi kamar saya hingga saya lulus dari OvG University, dengan alamat: Uni-Hotel, Walther-Rathenau strasse 19, zimmer 153. My room...my kingdom....
Di depan Uni-Hotel
Thursday, February 11, 2010
Tiba di Magdeburg
PERJALANAN MENUJU MAGDEBURG
Akhirnya tiba juga di tempat tujuan, tepatnya tanggal 26 Oktober 2003. Berhubung ini kali pertama saya mengunjungi Eropa maka ada sedikit kepanikan saat pesawat pertama dari Jakarta menuju Frankfurt mengalami keterlambatan. Karena untuk mencapai Magdeburg harus melanjutkan penerbangan kembali dari Frankfurt ke Berlin, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api. Saat pesawat tiba di Frankfurt, pesawat lanjutan ke Berlin sudah bersiap lepas landas sehingga tertinggal lah saya di airport. Untungnya ada seorang bapak, orang Indonesia, yang memberitahukan saya untuk melakukan transfer pesawat di counter Lufthansa sehingga saya bisa langsung dipandu untuk mendapatkan penerbangan selanjutnya menuju Berlin.
Sebelum berangkat dari Indonesia, kami sudah meminta bantuan seorang kenalan yang tinggal di Berlin, bapak Hartono, untuk menjemput saya di bandara dan kemudian memandu saya menuju stasiun kereta api. Namun karena keterlambatan penerbangan tadi, sayapun sangat telat tiba di Berlin hingga kurang lebih 3-4 jam. Ditambah lagi saya kehilangan kopor yang mungkin tercampur di Frankfurt ketika saya berganti pesawat. Wah, sudah telat...kopor hilang pula. Saya jadi merasa tidak enak kepada pak Hartono yang telah menunggu lama dan sekarang harus membantu saya mengurus koper yang hilang. Terpaksa kami melaporkan ke bagian 'Lost & Found' dan menunggu hingga ada informasi mengenai kopor saya. Tidak lama kemudian, kami mendapatkan informasi bahwa kopor saya sudah tiba dan berada di bagian penyimpanan barang yang terpisah dari gedung utama airport. Selesai mengurus semuanya, maka pak Hartono yang ditemani oleh keponakannya mengantarkan saya menuju stasiun utama (Hauptbanhoff) kota Berlin, dimana saya akan melanjutkan perjalanan melalui kereta.
Kereta Regional Express (RE)
Suasana di dalam RE
Stasiun Kereta Magdeburg
TIBA DI ASRAMA
Perjalanan menuju asrama ternyata sangat singkat. Persis di depan stasiun utama (Hauptbanhoff) langsung terdapat jalur kereta (trem) yang dilewati oleh beberapa trayek. Salah satunya adalah trem yang melewati kompleks asrama tempat pak Zaeni tinggal. Asrama mahasiswa di Magdeburg ini sesungguhnya adalah asrama yang dikelelola oleh pemerintah daerah dan bukan oleh universitas. Namun dalam operasionalnya, melakukan hubungan kerja sama langsung sehingga untuk fasilitas kamar bagi para mahasiswa tamu, beasiswa dari DAAD, dan sebagainya, asrama ini memiliki tempat khusus selain dari kamar-kamar yang disewakan untuk mahasiswa umum. Demikian pula untuk fasilitas lain seperti koneksi internet dan fasilitas cuci pakaian (laundry) yang juga terhubung dengan sistem di universitas. Asrama ini disebut Studententwerk.
Ada beberapa gedung di dalam kompleks asrama ini, salah satunya adalah yang disebut 'Uni-Hotel'. Dulunya gedung ini berfungsi sebagai hotel yang dikelola oleh studentenwerk. Namun dalam perkembangannya mungkin kurang memberikan keuntungan sehingga diubah menjadi kamar-kamar yang disewakan kepada mahasiswa. Di sinilah saya tinggal, kamar milik pak Zaeni di nomor 352. Kamar yang cukup luas untuk ukuran asrama karena dilengkapi dengan kamar mandi dalam dan lemari pakaian. Tidak heran karena dulunya merupakan kamar hotel. Untuk dapur adalah dapur bersama dan terdapat 6 buah dapur untuk setiap lantai yang kira-kira terdiri dari sekitar 44 kamar.
Tampak Belakang Uni-Hotel (kiri)
Selama tinggal dengan pak Zaeni, terpaksa saya tidur menggunakan alas kasur di lantai. Untungnya ukuran kamar di Uni-Hotel cukup besar sehingga tidak terlalu mengganggu aktifitas pak Zaeni yang merupakan salah satu mahasiswa doktoran (PhD) yang telah tinggal selama 4 tahun lebih di Magdeburg. Beruntungnya, pak Zaeni juga telah memasang sambungan telepon di kamarnya sehingga saya tidak telalu sulit untuk sesekali menghubungi rumah disaat rindu dengan keluarga.
AREA KAMPUS UNIVERSITAS OTTO-VON-GUERICKE
Denah kampus Universitas OvG
Ternyata lokasi kampus dan asrama hanya berseberangan dan dipisahkan oleh jalan. Enak sekali memang, tidak perlu repot-repot melakukan perjalanan jauh. Dan ternyata jarak dari kampus ke pusat kota juga tidak jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit berjalan kaki. Berhubung bulan ini sudah memasuki akhir Oktober dan persiapan memasuki musim dingin, pepohonan sudah mulai meranggas dan udara dingin yang disertai angin cukup membuat badan kedinginan. Apalagi saya baru pertama kali menginjakkan kaki di daerah ini. Area kampus memiliki beberapa gedung yang tersebar di area yang cukup luas. Mulai bagunan utama yang besar yang digunakan oleh beberapa jurusan seperti kimia dan fisika, hingga beberapa bangunan kecil serta bangunan tua yang digunakan oleh jurusan tertentu seperti tehnik mesin. Jurusan QSE sendiri memiliki gedung yang terpisah yang terdiri dari 4 lantai.Jalan yang memisahkan area Studentenwerk dengan kampus
Gedung 23 tempat kami kuliah
Perpustakaan berada di area asrama sehingga sangat memudahkan para mahasiswa jika ingin mengunjungi perpustakaan. Desain bangunan yang unik pada perpustakaan ini juga menjadikan salah satu trade mark OvG University.
Tampak depan perpustakaan
Perpusatakaan OvG University (Bibliothek)
Salah satu bagian kampus
Gedung Fisika
Karena saya tiba di Magdeburg pada hari Minggu , maka kondisi kota terlihat sangat sepi. Kebetulan perjalanan dari stasiun menuju asrama melewati langsung pusat kota yang besarnya tidak lebih dari sebesar area Blok M. Di sini, hampir seluruh aktifitas bisnis tutup di hari Minggu. Bahkan menurut cerita, dulu mereka juga tutup di hari Sabtu sehingga suasana weekend di kota ini bagaikan kota tanpa kehidupan. Namun kini pemerintah daerah telah mengubah peraturan tersebut sehingga untuk hari Sabtu seluruh aktifitas berjalan normal dan beberapa toko, supermarket dan mall besar tetap buka di hari Minggu.
Suasana di Breiter Weg
Suasana di pusat kota
Di pusat kota hanya terdapat beberapa shopping mall, yang paling besar adalah Karstadt (sekelas Metro) dan untuk electronic center yaitu Saturn yang berlokasi di Allee Center. Salah satu plaza, City-Care, juga memiliki supermarket besar sekelas Carefour, yaitu REAL. Terdapat juga beberapa toko lain namun secara umum semuanya tidak bisa dibandingkan dengan PI-Mall, Kelapa Gading, Taman Angrek, dan sederetan mall lain di Jakarta.
Pusat kota
Titik pusat kota
Subscribe to:
Posts (Atom)









































